Masyarakat Jepang dan Budaya Memakai Masker sejak Berbabad-abad Silam
Dapatkan link
Facebook
X
Pinterest
Email
Aplikasi Lainnya
Oleh
Jon Moekidi
KABAR.PACIRAN.COM - Jepang dikenal dengan sejumlah budaya yang melekat pada masyarakatnya seperti disiplin dan saling menghormati.
Selain itu, ada hal-hal lain yang juga menjadi ciri dan sejak lama dikenal pada masyarakat Negeri Sakura itu, di antaranya adalah mereka terbiasa berjalan kaki untuk menuju lokasi lain dan mengenakan masker saat berada di luar rumah. Warga memakai masker pelindung berjalan di sebuah distrik pasar lokal di tengah penyebaran penyakit virus korona (COVID-19) di Tokyo, Jepang, Rabu (13/5/2020).
Disadari atau tidak, kebiasaan ini ternyata membantu Jepang menekan angka kasus Covid-19 di negara itu.
Sebagaimana diketahui, virus corona bisa dengan mudah menular dari manusia ke manusia, dan salah satu cara pencegahannya adalah dengan mengenakan masker setiap kali keluar rumah.
Tanpa dipaksa dan diminta, masyarakat Jepang sudah melakukannya sejak lama. Masker seringkali menjadi bagian tak terpisahkan dari kelengkapan pakaian yang mereka kenakan bila beraktivitas di luar.
Memakai masker sejak berabad-abad silam
Tamotsu Hirai dengan sejumlah masker dari berabad-abad lalu
Melansir Japan Times, 4 Juli 2020, di Jepang ada istilah mata berbicara sebanyak mulut.
Bisa jadi, hal itu merupakan makna yang ditangkap dari kebiasaan masyarakat negara itu yang kerap mengenakan masker wajah.
Historis antara masyarakat Jepang dan masker ternyata bisa dilihat telah terjadi sejak berabad-abad yang lalu, jauh sebelum pandemi Covid-19 menyerang.
Pada umumnya, di luar pandemi, masker di Jepang banyak digunakan saat musim panas dan musim influenza.
Namun sebenarnya di luar itu pun, masker telah merasuk dalam banyak aspek kehidupan orang Jepang.
Misalnya fungsinya dibuat beragam, mulai dari masker anti sinar ultraviolet, mencegah kacamata berkabut, atau masker untuk membuat wajah terlihat lebi ramping.
Di Jepang, bahkan ada istilah yang diberikan pada perempuan yang terlihat cantik jika mengenakan topeng, masuku bijin.
Lalu bagaimana sejarahnya sehingga kebiasaan bermasker di masyarakat Jepang bisa terbentuk dan diterapkan hingga saat ini?
Di negara Asia Timur lain, penggunaan masker secara meluas baru mulai terbentuk ketika terjadi wabah SARS pada era 2003.
Bukan suatu kebetulan, ketika wabah terjadi, Jepang mencatat nol kematian yang ditimbulkan akibat SARS.
Menurut seorang kolektor peralatan medis lawas asal Jepang, Tamotsu Hirai, mengapa masyarakat Jepang begitu dekat dengan masker harus dilihat jauh ke belakang.
Hirai menceritakan, sejak zaman kuno masyarakat Jepang sudah menutup mulut mereka menggunakan kertas atau daun untuk mencegah napas (yang dianggap sebagai najis) mereka terembus keluar. Ini erat kaitannya dengan ritual keagamaan.
Hal ini banyak ditemui di kuil-kuil di penjuru Jepang, seperti di Kyoto dan Osaka.
Lalu pada Zaman Edo (1603-1868 Masehi) praktik mengenakan masker sudah menjadi kebiasaan hampir mayoritas penduduk negeri.
Selanjutnya sejarah modern masker dimulai pada Era Meiji (1868-1912), menurut Hirai.
Pada awalnya, masker diproduksi untuk diimpor, bagian luar berbagan kawat kuningan dilengkapi dengan filter, masker diperuntukkan bagi pekerja tambang, pabrik, dan konstruksi.
Kemudian pada 1879, salah satu masker produksi dalam negeri diiklankan untuk pertama kalinya melalui surat kabar.
Secara perlahan bahan pembuatan masker bergeser, dari logam, hingga dari bahan seluloid.
Saat itu harga masker sangat mahal, setara dengan 3.500 Yen saat ini.
Namun masker-masker itu memang dapat digunakan berkali-kali dengan cara mengganti kain kasa yang diselipkan di antara mulut dan masker.
Di Era Taisho (1912-1926), bisnis masker berkembang karena ekonomi yang juga sedang maju. Banyak masker produksi pabrikan Jepang mengisi pasar Eropa selama Perang Dunia I.
Sebagian besar masker itu terbuat dari kulit, beludru, dan bahan lainnya. Pandemi Flu Dpanyol
shutterstock
Petugas medis menggunakan masker saat wabah flu spanyol di awal abad 19
Namun, momentum penting atau momentum kunci yang membuat masyarakat Jepang begitu dekat dengan masker adalah adanya pandemi Flu Spanyol 1918-1929 yang menewaskan jutaan orang di dunia.
Jepang sendiri kehilangan lebih dari 450.000 warganya akibat Flu Spanyol.
Salah satu akademisi Jepang yang memiliki umur panjang dan pernah mengalami masa terjadinya flu Spanyol Saburo Shochi menceritakan pengalamannya ketika dulu terjadi pandemi flu Spanyol.
Ia masih mengingat ketika satu per satu teman kelasnya tak bisa lagi ia temui karena wabah flu itu.
Di saat wabah terjadi, bahkan Shoichi mengaku diriya yang masih berusia 10 tahun dan sejumlah anggota keluarganya terkena penyakit sehingga tidak bisa bangkit dari kamarnya selama berhari-hari.
Flu Spanyol yang bisa dengan mudah menular akhirnya diketahui, masyarakat pun mulai memakai masker dalam menjalani kegiatan sehari-hari, karena dianggap menawarkan perlindungan dari virus itu.
Beragam slogan di lembaga pendidikan juga banyak yang menyangkut soal masker, misalnya "Sembrono adalah mereka yang tidak memakai masker".
Dengan begitu orang-orang terpacu untuk memakainya.
Bagi mereka yang tidak mampu membeli masker, media cetak ketika itu menampilkan informasi yang memuat cara membuat masker sendiri di rumah.
Persis seperti tutorial membuat masker yang akhir-akhir ini bermunculan di media digital modern.
Di awal Periode Showa (1926-1989) masker memiliki model tiga dimensi seperti yang saat ini diproduksi.
Namun, lama-kelamaan stok menipis karena muncul Perang Dunia II, dan bahan baku pembuatan masker kebanyakan difokuskan untuk kebutuhan militer.
Oleh karena itu, muncul lah masker yang menggunakan bahan baku kasa dengan model sederhana dan harga lebih murah. Kasa ini lah yang akhirnya dipakai oleh masyarakat Jepang untuk kegiatan sehari-hari.
Sejak saat itu, masker sudah tidak lagi menjadi simbol kemakmuran atau kemampuan seseorang.
Setelah perang berakhir, masker mengalami evolusi hingga bentuknya sebagaimana kita temui hari ini, berwarna putih atau bersih, sekali pakai, memiliki model lipatan, dan sebagainya.
Mulai 1 Juli 2024 Nomor Induk Kependudukan (NIK) akan dapat digunakan sebagai Nomor Pokok Wajib pajak (NPWP). Hari ini, Minggu (30/6), merupakan tenggat waktu mengintegrasikan NIK menjadi NPWP. Kebijakan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 112 Tahun 2022 tentang Wajib Pajak Orang Pribadi, Wajib Pajak Badan, dan Wajib Pajak Instansi Pemerintah. Dengan demikian, format NPWP yang saat ini terdiri dari 15 digit hanya akan berlaku sampai hari ini. Kemudian, mulai 1 Juli 2024 akan menggunakan format baru yakni 16 digit. Pemadanan NIK dengan NPWP hanya berlaku bagi masyarakat yang telah memiliki NPWP. Wajib pajak yang baru akan mendaftar, nantinya bakal langsung terdaftar di NIK. Masyarakat harus memadankan NIK dan NPWP-nya pada hari ini agar tidak mengalami gangguan kendala dalam aktivitasnya. Pasalnya, mereka yang NIK nya belum terdaftar sebagai NPWP tidak bisa melakukan transaksi yang berhubungan dengan perpajakan. Berikut daftar layanan yang tak bisa dilakukan ji...
Oleh: Lailatus Syarifah Mahasiswa UNISLA II Paciran Sering nggak sih dengar kalau orang Lamongan pantang makan lele? Padahal banyak lho perantau Lamongan yang berjualan pecel lele, namun konon mereka pantang memakannya. Lalu bagaimana sejarah yang terdapat di balik kepercayaan itu? Pasti ada asal muasal lahirnya pantangan bagi masyarakat asli Lamongan untuk memakan ikan lele. Apakah semua warga Lamongan asli pantang memakannya ataukah hanya sebagian kecil masyarakat saja? Jika iya, di mana tepatnya desa yang dimaksud? Mari simak sejarah di balik pantangan makan ikan lele. Menurut Ranggawarsita (pujangga Jawa di Kasunanan Surakarta), serta beberapa sumber lain seperti cerita para sesepuh desa, didapatkan sejarah asal muasal pantangan makan ikan lele bagi masyarakat Lamongan. Cerita ini berawal ketika Sunan Giri III yang bernama Sedamargo melakukan penyebaran agama Islam ke desa-desa menelusuri sepanjang aliran Bengawan Solo bersama dengan muridnya. ...
Sore itu, Sabtu (2/9) 6 dari 8 atlit yang kami bawa menaiki podium juara. Belum ada yang juara pertama. Toh, banyak dari anak-anak yang baru mengikuti kejurkab. Tak kuasa saya sebagai official terus-menerus memberi arahan. Salah satu arahan yang saya lakukan adalah memberikan masukan tentang permainan lawan. Nama-nama langganan juara banyak yang turun gunung. Menganalisa permainan lawan sebelum bertanding adalah salah satu hal. Namun, saya sulit mencari celah, sebab lawan babak pertama dari pemain langganan juara, sangat jauh. Pemain pemula, batin saya. Seminggu selepas kejurkab. Tak ada yang tersisa. Yang tersisa hanya kumpulan foto selama pertandingan. Sejam selepas penyerahan tropi juara, anak-anak saya kasih wejangan, "bahwa nikmatnya juara itu cuma beberapa hari, setelah itu kalian harus kembali latihan lagi. Karena Senin sudah akan kembali latihan." Nikmati setiap proses latihan. Sebab, proses latihan yang akan menentukan hasil pertandingan. Penulis ...
Komentar
Posting Komentar