Pondok Pesantren Putri Al Fatimiyah Paciran Juara 1 Lomba Poskestren Lamongan
Dapatkan link
Facebook
X
Pinterest
Email
Aplikasi Lainnya
Oleh
Jon Moekidi
LAMONGAN, KABAR.PACIRAN.COM - Pondok pesantren putri al Fatimiyah menjadi juara 1 pada lomba Poskestren (Pos Kesehatan Pondok Pesantren) yang diadakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Lamongan Tahun 2019. di Upacara hari peringatan kesehatan nasional ke- 53 Tahun 2019 kabupaten Lamongan hari Selasa, 12 November 2019 di halaman Dinas Kesehatan Kabupaten Lamongan, ponpes putri Al fatimiyah dikukuhkan menjadi juara 1.
“Lomba poskestren yang diadakan oleh Dinas Kesehatan ini diikuti oleh pondok-pondok pesantren se-lamongan. Dan Alhamdulillah Pondok pesantren putri al fatimiyah ini mampu menggungguli poskestren pondok-pondok lain”. Tutur H. Abdulloh Adib Haad Pengasuh Pesantren Putri Al Fatimiyah.
Gus Adib panggilan akrabnya juga menambahkan, “Sesuai dengan pengumuman dari Dinas Kesehatan Lamongan Juara lomba poskestren terbaik kabupaten Lamongan itu ditetapkan Pondok Pesantren Putri Al Fatimiyah Banjaranyar Paciran sebagai Juara 1, kemudian Pondok Pesantren Al Islah Paciran Juara 2, Pondok Pesantren Raudlotul Muta’alimin Moropelang Babat sebagai Juara 3 dan Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah Kranji Paciran sebagai Juara Harapan 1”
Selain juara di tingkat Lamongan, Poskestren pondok pesantren Putri al Fatimiyah juga juara terbaik 4 ditingkat Provinsi Jawa Timur mewakili kabupaten Lamongan.
“Juara 1 lomba poskestren Kab. Lamongan kemudian diikutkan pada lomba poskestren tingkat jawa timur, kemudian divisitasi oleh dinas kesehatan provinsi pada tanggal 16 Oktober 2019 dan Alhamdulillah Pp al fatimiyah masuk 4 terbaik jawa timur”. Tambah gus Adib
Poskestren Pesantren Putri Al Fatimiyah ini berpegang dengan prinsip dari, oleh dan untuk warga pesantren yang mengutamakan pelayanan promotif (peningkatan) dan preventif (pencegahan) tanpa mengabaikan aspek kuratif (pengobatan) dan rehabilitative (pemulihan kesehatan)
“Poskestren PP Al Fitimiyah ini berada di asrama barat yang sudah bisa memberikan fasilitas rawat jalan dan pengobatan dasar bagi santri dan masyarakat sekitar pondok”. Tambah Gus Adib
Mulai 1 Juli 2024 Nomor Induk Kependudukan (NIK) akan dapat digunakan sebagai Nomor Pokok Wajib pajak (NPWP). Hari ini, Minggu (30/6), merupakan tenggat waktu mengintegrasikan NIK menjadi NPWP. Kebijakan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 112 Tahun 2022 tentang Wajib Pajak Orang Pribadi, Wajib Pajak Badan, dan Wajib Pajak Instansi Pemerintah. Dengan demikian, format NPWP yang saat ini terdiri dari 15 digit hanya akan berlaku sampai hari ini. Kemudian, mulai 1 Juli 2024 akan menggunakan format baru yakni 16 digit. Pemadanan NIK dengan NPWP hanya berlaku bagi masyarakat yang telah memiliki NPWP. Wajib pajak yang baru akan mendaftar, nantinya bakal langsung terdaftar di NIK. Masyarakat harus memadankan NIK dan NPWP-nya pada hari ini agar tidak mengalami gangguan kendala dalam aktivitasnya. Pasalnya, mereka yang NIK nya belum terdaftar sebagai NPWP tidak bisa melakukan transaksi yang berhubungan dengan perpajakan. Berikut daftar layanan yang tak bisa dilakukan ji...
Oleh: Lailatus Syarifah Mahasiswa UNISLA II Paciran Sering nggak sih dengar kalau orang Lamongan pantang makan lele? Padahal banyak lho perantau Lamongan yang berjualan pecel lele, namun konon mereka pantang memakannya. Lalu bagaimana sejarah yang terdapat di balik kepercayaan itu? Pasti ada asal muasal lahirnya pantangan bagi masyarakat asli Lamongan untuk memakan ikan lele. Apakah semua warga Lamongan asli pantang memakannya ataukah hanya sebagian kecil masyarakat saja? Jika iya, di mana tepatnya desa yang dimaksud? Mari simak sejarah di balik pantangan makan ikan lele. Menurut Ranggawarsita (pujangga Jawa di Kasunanan Surakarta), serta beberapa sumber lain seperti cerita para sesepuh desa, didapatkan sejarah asal muasal pantangan makan ikan lele bagi masyarakat Lamongan. Cerita ini berawal ketika Sunan Giri III yang bernama Sedamargo melakukan penyebaran agama Islam ke desa-desa menelusuri sepanjang aliran Bengawan Solo bersama dengan muridnya. ...
Oleh : Imroatul Imaniah Mahasiswi UNISLA II Paciran Ada banyak hal yang terjadi dan tersimpan dari tanah kelahiranku sekaligus tempat tinggalku. Saya dengar dan dapati ketika mendengar cerita orang tua terdahulu yang hidup sebelumnya dengan segala bentuk cerita dan misteri yang tersimpan selama ini. Hidup memang penuh misteri di mana tidak akan pernah tahu bagaimana kehidupan ke depan akan terjadi, misteri bukanlah masalah untuk dipecahkan tapi kenyataan untuk dialami. Pernah ada seseorang yang berkata padaku bahwa dahulu ada sebuah “Makam Ndowo” yang konon sering dipuja-puja oleh masyarakat setempat yang telah lalu, dengan membentuk lingkaran seperti Wer. Wer-wer disini berada di tengah-tengah yang jauh dari perkampungan masyarakat, karena pada saat itu masih belum tersedia banyak rumah seperti sekarang ini, saat ini tempat itu dijadikan PKU (Pembina Kesejahteraan Umat). Dan itulah mengapa disebut Desa Weru. Desa Weru termasuk daerah pesisir ya...
Komentar
Posting Komentar