Tadi siang sampai sore saya ngopi di lamongan kota. Niatnya sih menghadiri diskusi yang bertema "dana politik marak. pelayanan publik mangkrak". Sebuah diskusi tentang apbd kab lamongan tahun 2020 yang juga baru saja disahkan tadi. Diskusi tersebut diselenggarakan prakarsa jatim di aconk cafe lamongan.
Saya datang telat, tapi pulang duluan. Di tengah perjalanan pulang, saya mampir di masjid banyubang untuk melakukan sholat asar. Sebelum wudlu, saya menuju kamar kecil untuk kencing. Soal kencing ini, saya punya kebiasaan yang saya lihat juga dilakukann oleh banyak orang. Yaitu mengeluarkan dompet dari saku belakang celana. Ya.. Biar tidak nyengkal saja, saat jongkok untuk kencing nanti..
Diaarrr.. Drama dimulai.
Dompet tidak ada di saku celanaku. Waduh.. Saya mulai panik sambil mengingat-ingat, di mana kira-kira jatuhnya dompetku tadi?
Saat berangkat tadi saya merasa tidak mampir di manapun. Jadi tidak mungkin jatuh saat berangkat tadi. Pikir saya. Keyakinan saya satu, dompet saya jatuh di tempat acara diskusi tadi. Tidak di tempat lain.
Saya telfon semua nomer telpon di hp yang tadi saya lihat berada di lokasi. Jawabannya sama, mereka sudah bergeser dari tempat yang saya maksud. Tentu saja kepanikan semakin meninggi. Sampai kemudian saya menelpon salah satu teman untuk memintanya kembali ke tempat diskusi, mencarinya dan kalau perlu menanyakan penjaganya. Hasilnya nol besar. Dompet tidak juga berhasil ditemukan. Saya pasrah.
Saya melanjutkan wudlu dan kemudian sholat. Selesai sholat, saya sempatkan curhat kemudian berdoa. Ya Allloh.. Dompet tersebut memang tidak ada uangnya.. Tapi surat-surat penting saya ada didalam dompet itu. Mulai dari ktp, kartu bpjs, kartu ansuran sampai atm. Saya tidak mau repot lagi mengurusnya Ya Alloh.. Tolong pertemukan dompet saya itu kepada orang yang bertangungjawab, lebih2 yang kenal dengan saya, Ya Alloh..
Habis berdoa, hati saya pelan-pelan mulai tenang. Saya WA istri saya. Menanyakan dompet barangkali ketinggalan di rumah. Lama tidak dibalas. Saya kembali lemas.
Nah, barangkali ada pembaca yang menemukannya atau mau membantu mencarikannya, tentu saya sangat berterimakasih sekali. Saya yakin, di luar sana masih banyak sekali orang baik. Yang mau membantu dengan tulus ikhlas.
Untuk itu, atas kebaikan dan niat tulus tersebut, ingin saya sampaikan, dompet tersebut sudah ketemu di rumah. Barusan istri saya membalas WA saya. Dompet ada di rumah. Di atas lemari kamar sholat. Ternyata saya tadi lupa, tidak membawanya.
Alhamdulillah..
penulis: M. Riadus Sholihin
Tinggal di desa Drajat.
Mulai 1 Juli 2024 Nomor Induk Kependudukan (NIK) akan dapat digunakan sebagai Nomor Pokok Wajib pajak (NPWP). Hari ini, Minggu (30/6), merupakan tenggat waktu mengintegrasikan NIK menjadi NPWP. Kebijakan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 112 Tahun 2022 tentang Wajib Pajak Orang Pribadi, Wajib Pajak Badan, dan Wajib Pajak Instansi Pemerintah. Dengan demikian, format NPWP yang saat ini terdiri dari 15 digit hanya akan berlaku sampai hari ini. Kemudian, mulai 1 Juli 2024 akan menggunakan format baru yakni 16 digit. Pemadanan NIK dengan NPWP hanya berlaku bagi masyarakat yang telah memiliki NPWP. Wajib pajak yang baru akan mendaftar, nantinya bakal langsung terdaftar di NIK. Masyarakat harus memadankan NIK dan NPWP-nya pada hari ini agar tidak mengalami gangguan kendala dalam aktivitasnya. Pasalnya, mereka yang NIK nya belum terdaftar sebagai NPWP tidak bisa melakukan transaksi yang berhubungan dengan perpajakan. Berikut daftar layanan yang tak bisa dilakukan ji...
Oleh: Lailatus Syarifah Mahasiswa UNISLA II Paciran Sering nggak sih dengar kalau orang Lamongan pantang makan lele? Padahal banyak lho perantau Lamongan yang berjualan pecel lele, namun konon mereka pantang memakannya. Lalu bagaimana sejarah yang terdapat di balik kepercayaan itu? Pasti ada asal muasal lahirnya pantangan bagi masyarakat asli Lamongan untuk memakan ikan lele. Apakah semua warga Lamongan asli pantang memakannya ataukah hanya sebagian kecil masyarakat saja? Jika iya, di mana tepatnya desa yang dimaksud? Mari simak sejarah di balik pantangan makan ikan lele. Menurut Ranggawarsita (pujangga Jawa di Kasunanan Surakarta), serta beberapa sumber lain seperti cerita para sesepuh desa, didapatkan sejarah asal muasal pantangan makan ikan lele bagi masyarakat Lamongan. Cerita ini berawal ketika Sunan Giri III yang bernama Sedamargo melakukan penyebaran agama Islam ke desa-desa menelusuri sepanjang aliran Bengawan Solo bersama dengan muridnya. ...
Oleh : Imroatul Imaniah Mahasiswi UNISLA II Paciran Ada banyak hal yang terjadi dan tersimpan dari tanah kelahiranku sekaligus tempat tinggalku. Saya dengar dan dapati ketika mendengar cerita orang tua terdahulu yang hidup sebelumnya dengan segala bentuk cerita dan misteri yang tersimpan selama ini. Hidup memang penuh misteri di mana tidak akan pernah tahu bagaimana kehidupan ke depan akan terjadi, misteri bukanlah masalah untuk dipecahkan tapi kenyataan untuk dialami. Pernah ada seseorang yang berkata padaku bahwa dahulu ada sebuah “Makam Ndowo” yang konon sering dipuja-puja oleh masyarakat setempat yang telah lalu, dengan membentuk lingkaran seperti Wer. Wer-wer disini berada di tengah-tengah yang jauh dari perkampungan masyarakat, karena pada saat itu masih belum tersedia banyak rumah seperti sekarang ini, saat ini tempat itu dijadikan PKU (Pembina Kesejahteraan Umat). Dan itulah mengapa disebut Desa Weru. Desa Weru termasuk daerah pesisir ya...
Komentar
Posting Komentar