LAMONGAN, KABAR.PACIRAN.COM - Atlet Atletik Lamongan, Muhammad Suda Hilmi berhasil menyumbangkan medali Emas bagi Tim Jawa Timur di ajang Pekan Olah Raga dan Seni Antar Pondok Pesantren Tingkat Nasional (POSPENAS) VIII 2019 di Bandung.
Atlet dari Pondok Pesantren Ismailiyah Almuhtadi Sendangagung Paciran itu bertanding di nomor Lomba Lari Estafet dan Lari 100 meter.
Menurut Suda-panggilan akrabnya menuturkan, Medali Emas di dapatkan dari nomor lomba lari estafet dengan catatan waktu 45,04 Detik. Dia satu tim dengan pelari dari Kota Malang dan Jombang.
Sebelum melenggang di babak final timnya sempat seri dengan propinsi lain dengan catatan waktu 45,07 detik.
"Saat babak final kami melawan tim dari propinsi Bali, Bangka Belitung, Jawa Barat, Kalimantan Selatan, Riau, Banten, dan D.I. Yogyakarta. Final sempat di ulang karena seri dengan tim lain. Alhamdulillah, kemudian kami berhasil finish di urutan pertama" tuturnya.
Sedangkan di nomor lari 100 meter, Suda hanya bisa finish di urutan keempat, dengan catatan waktu 11,60 detik. Di babak final dia bersaing dengan rekan setimnya, Muhammad Rahadi Zidan yang berhasil finish di urutan pertama dengan catatan waktu 11,38 detik.
"Babak final di nomor lomba lari di ikuti delapan atlet. Dari jatim ada dua yang sama-sama masuk final. Rahadi yang menjadi juara pertama dan saya di urutan ke empat, sebelumnya saya menjalani pemusatan latihan daerah (puslatda) di surabaya selama 1 bulan". Ungkapnya.
Medali Emas yg di sumbangkan Suda, akhirnya berhasil membawa Tim Jatim menjadi juara umum ketiga dalam Pospenas VIII Itu.
Dengan total perolehan 10 medali emas, 14 perak, dan 16 perunggu.
Mulai 1 Juli 2024 Nomor Induk Kependudukan (NIK) akan dapat digunakan sebagai Nomor Pokok Wajib pajak (NPWP). Hari ini, Minggu (30/6), merupakan tenggat waktu mengintegrasikan NIK menjadi NPWP. Kebijakan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 112 Tahun 2022 tentang Wajib Pajak Orang Pribadi, Wajib Pajak Badan, dan Wajib Pajak Instansi Pemerintah. Dengan demikian, format NPWP yang saat ini terdiri dari 15 digit hanya akan berlaku sampai hari ini. Kemudian, mulai 1 Juli 2024 akan menggunakan format baru yakni 16 digit. Pemadanan NIK dengan NPWP hanya berlaku bagi masyarakat yang telah memiliki NPWP. Wajib pajak yang baru akan mendaftar, nantinya bakal langsung terdaftar di NIK. Masyarakat harus memadankan NIK dan NPWP-nya pada hari ini agar tidak mengalami gangguan kendala dalam aktivitasnya. Pasalnya, mereka yang NIK nya belum terdaftar sebagai NPWP tidak bisa melakukan transaksi yang berhubungan dengan perpajakan. Berikut daftar layanan yang tak bisa dilakukan ji...
Oleh: Lailatus Syarifah Mahasiswa UNISLA II Paciran Sering nggak sih dengar kalau orang Lamongan pantang makan lele? Padahal banyak lho perantau Lamongan yang berjualan pecel lele, namun konon mereka pantang memakannya. Lalu bagaimana sejarah yang terdapat di balik kepercayaan itu? Pasti ada asal muasal lahirnya pantangan bagi masyarakat asli Lamongan untuk memakan ikan lele. Apakah semua warga Lamongan asli pantang memakannya ataukah hanya sebagian kecil masyarakat saja? Jika iya, di mana tepatnya desa yang dimaksud? Mari simak sejarah di balik pantangan makan ikan lele. Menurut Ranggawarsita (pujangga Jawa di Kasunanan Surakarta), serta beberapa sumber lain seperti cerita para sesepuh desa, didapatkan sejarah asal muasal pantangan makan ikan lele bagi masyarakat Lamongan. Cerita ini berawal ketika Sunan Giri III yang bernama Sedamargo melakukan penyebaran agama Islam ke desa-desa menelusuri sepanjang aliran Bengawan Solo bersama dengan muridnya. ...
Oleh : Imroatul Imaniah Mahasiswi UNISLA II Paciran Ada banyak hal yang terjadi dan tersimpan dari tanah kelahiranku sekaligus tempat tinggalku. Saya dengar dan dapati ketika mendengar cerita orang tua terdahulu yang hidup sebelumnya dengan segala bentuk cerita dan misteri yang tersimpan selama ini. Hidup memang penuh misteri di mana tidak akan pernah tahu bagaimana kehidupan ke depan akan terjadi, misteri bukanlah masalah untuk dipecahkan tapi kenyataan untuk dialami. Pernah ada seseorang yang berkata padaku bahwa dahulu ada sebuah “Makam Ndowo” yang konon sering dipuja-puja oleh masyarakat setempat yang telah lalu, dengan membentuk lingkaran seperti Wer. Wer-wer disini berada di tengah-tengah yang jauh dari perkampungan masyarakat, karena pada saat itu masih belum tersedia banyak rumah seperti sekarang ini, saat ini tempat itu dijadikan PKU (Pembina Kesejahteraan Umat). Dan itulah mengapa disebut Desa Weru. Desa Weru termasuk daerah pesisir ya...
Komentar
Posting Komentar