KABAR.PACIRAN.COM - Ada yang berbeda dengan suasana di caffe Viena, Paciran, Lamongan pada Jum'at malam (15/11). Mulai dari pukul 16:00 hingga 22:30, puluhan anak muda yang rata-rata tinggal di pesisir pantura lamongan hadir dalam kegiatan yang bertajuk Literasi & Kita: Mabura (macam buku rame-rame). Sebuah kegiatan yang rutin digelar di lamongan beberapa bulan terahir. Acara ini diinisiasi oleh Billy Ariez, putra kelahiran Dagan, Solokuro, Lamongan.
Mabura dalam sudut pandang tertentu bisa dibilang merupakan kegiatan literasi yang tidak biasa, atau dalam bahasa lokal Lamongan disebut "ora umum" bagi kota kecil seperti Lamongan. Keunikan kegiatan ini dimulai sejak mendaftar. Calon peserta diminta menuliskan nama alamat dan buku yang bakal dibawa. untuk kemudian dibaca. Data diri dan buku di tunjukkan kepada panitia untuk ditukar dengan selembar kupon berbentuk stiker kegiatan yang selanjutnya bisa ditukar dengan makanan ringan. Dimana dalam acara tersebut ada sesi membaca buku rame-rame.
Kegiatan Mabura ini merupakan edisi kedua, setelah sebelumnya diadakan di Lamongan dengan prosedur pendaftaran yang hampir sama. Mabura kali ini mengambil tema literasi dan kita dengan konsep yang berbeda dan jauh lebih menarik.
Setelah dibuka oleh penampilan musikalisasi puisi karya Chairil Anwar dan Sutardji Cholzoum Bahri oleh Teater Kardus. Selanjutnya pemandu kegiatan M. Riadus Solihin naik panggung, dengan gayanya yang khas dan kocak mengingatkan pada sosok Cak Lontong itu, mempersilahkan satu persatu buku yang bergantian dibaca.
Ada tiga buku utama yang dibaca dalam Mabura kedua ini, buku antologi puisi santri "Alif lam" yang dibacakan oleh salah seorang penulisnya, Mahrus Ali, diiringi dengan petikan gitar Sukirno, anggota Nyastra Ginyo Lesbumi Lamongan. Setelah membaca dengan caranya yang khas, Mahrus membagi sedikit kiat menulis puisi bagi pemula.
"Menulis puisi itu mudah, ambil pena dan kertas lalu tulis. Nggak usah ada niat macam-macam. Tulis saja".
Sastrawan santri itu juga mengajak agar kita kembali ke buku ketimbang menghabiskan waktu main game online.
"Membaca buku itu tidak terpikir menang dan kalah, tidak menimbulkan kebanggaan-kebanggaan semu. Lain kalau main gim onlen. Pasti kepikiran menang dan kalah, yang bahaya kalau perasaan itu sampai menghilangkan nafsu makan. Ayo kembali ke buku" serunya.
Lukman, anggota lain Nyastra Ginyo turut membacakan puisi Mahrus Ali dari buku Alif Lam dan puisi karya Joko Pinurbo
Buku kedua yang dibaca berjudul Islam dan kebudayaan, hasil karya Kyai Jadul Maula yang dibacakan Imron Rosyadi, seorang politisi asal Gresik yang mempunyai minat cukup besar terhadap peningkatan mutu beliterasi. Terkait buku yang dibacanya, Imron memuji sebagai hasil karya besar.
"Banyak pengakuan datang dari penulis kepada Om Jadul terhadap karya ini. Karya ini sebenarnya sudah bagus tanpa perlu banyak pujian. Yang menjadi pertanyaan bersama, bagaimana kita mulai menciptakan habit untuk membaca atau menelaah karya hebat. Saya pikir sahabat-sahabat PMII atau pemuda NU bisa memulai itu" ucap Imron
Imron Rosyadi membaca buku mengaku cukup bangga bisa terlibat dalam Mabura
"Saya nggak nyangka, ada tempat kaya gini di Lamongan. Suasana kaya di Jogja yang dipindah ke Lamongan.. hehe.. Gresik bisa kalah nih.. " akunya setengah berkelakar.
Buku ketiga berjudul Alur alun Tanjidor' sebuah hasil riset kesenian tradisional di desa Lembor-Brondong-Lamongan. Buku ini dibacakan langsung oleh penulisnya A.H J Khuzaini. Selain membaca, Jenar, panggilan akrab penulis juga sedikit menceritakan proses penulisan hingga buku diterbitkan.
Sebagai penutup, pemandu acara menyilahkan Billy Ariez untuk membaca pidato kebudayaan. Dalam pidatonya. Billy menyampaikan rendahnya perhatian pemangku kebijakan terhadap peningkatan minat baca. Kenyataan yang baginya telah sampai pada tingkat kritis.
"Memang benar, beberapa desa di Lamongan telah memiliki perpustakaan. Akan tetapi kalau kita tinjau banyak ditemukan buku atau mungkin fasilitas lain yang kurang menunjang kualitas mutu sumber daya manusia penduduknya atau paling tidak bisa meningkatkan bakat mereka. Di perpustakaan desa masih banyak ditemukan buku-buku yang agama, seperti Bulughul maram, atau kiat-kiat ibadah bagi umat Islam. Bukan saya menganggap buku-buku tersebut dan sejenisnya tidak berguna. Sangat berguna, tapi masyarakat terutama para pemuda juga perlu diberikan buku-buku yang lebih praktis. Cara mengelola dunia digital, cara budidaya ikan atau tanaman, atau buku-buku lain yang memang dasarnya diniatkan untuk meluaskan wawasan dan kemampuan individu atau kelompok"
Seusai kegiatan penulis diberi waktu mewancarai Billy. Dengan wajah sumringah lelaki berkacamata itu mengaku ada kebahagiaan tersendiri bisa melaksanakan kegiatan ini sekaligus tidak menyangka apresiasi para pegiat literasi di Lamongan.
"Kegiatan seperti ini sebenarnya sudah umum ya, dilakukan para pegiat literasi di kota-kota besar kaya Jogja atau Jakarta. Wajar ya kalau kota-kota yang punya support sistem, maksudnya banyak hal yang mendukung bisa ngadakan. Hehehe" ujar pria kelahiran Dagan, Solokuro, Lamongan.
Sewaktu penulis tanya apa yang membuatnya yakin mengadakan di Lamongan.
"Jadi, sebenarnya nggak ada pikiran aneh-aneh, karena yang jadi penggerak even semacam ini di kota besar, ya anak-anak Lamongan.. hehehehe" ujarnya sambil tertawa.
Terkait pelaksanaan dikemudian hari, pria yang sehari-hari di Jakarta itu menyatakan akan menggelar kegiatan ini setiap bulan.
"Ya, kemungkinan besar Mabura bisa kita laksanakan setiap bulan. Tadi ada seorang peserta juga usul. Terkait tempat dan konsep. Kita pikirkan dulu ya.. hehe"
Selain dihadiri pegiat literasi lamongan, kegiatan ini juga dimeriahkan peserta dari kota lain seperti Bojonegoro dan Gresik. Dalam kegiatan ini, panitia membagi door prize, sebanyak 15 buku dan satu lusin kaos bertulis jargon unik. Lego Ergo Sum
"Aku membaca maka aku ada"
Bagaimana, saat Mabura kembali terlaksana, apa ada pembaca berminat mendaftarkan diri? (Jk)
Mulai 1 Juli 2024 Nomor Induk Kependudukan (NIK) akan dapat digunakan sebagai Nomor Pokok Wajib pajak (NPWP). Hari ini, Minggu (30/6), merupakan tenggat waktu mengintegrasikan NIK menjadi NPWP. Kebijakan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 112 Tahun 2022 tentang Wajib Pajak Orang Pribadi, Wajib Pajak Badan, dan Wajib Pajak Instansi Pemerintah. Dengan demikian, format NPWP yang saat ini terdiri dari 15 digit hanya akan berlaku sampai hari ini. Kemudian, mulai 1 Juli 2024 akan menggunakan format baru yakni 16 digit. Pemadanan NIK dengan NPWP hanya berlaku bagi masyarakat yang telah memiliki NPWP. Wajib pajak yang baru akan mendaftar, nantinya bakal langsung terdaftar di NIK. Masyarakat harus memadankan NIK dan NPWP-nya pada hari ini agar tidak mengalami gangguan kendala dalam aktivitasnya. Pasalnya, mereka yang NIK nya belum terdaftar sebagai NPWP tidak bisa melakukan transaksi yang berhubungan dengan perpajakan. Berikut daftar layanan yang tak bisa dilakukan ji...
Oleh: Lailatus Syarifah Mahasiswa UNISLA II Paciran Sering nggak sih dengar kalau orang Lamongan pantang makan lele? Padahal banyak lho perantau Lamongan yang berjualan pecel lele, namun konon mereka pantang memakannya. Lalu bagaimana sejarah yang terdapat di balik kepercayaan itu? Pasti ada asal muasal lahirnya pantangan bagi masyarakat asli Lamongan untuk memakan ikan lele. Apakah semua warga Lamongan asli pantang memakannya ataukah hanya sebagian kecil masyarakat saja? Jika iya, di mana tepatnya desa yang dimaksud? Mari simak sejarah di balik pantangan makan ikan lele. Menurut Ranggawarsita (pujangga Jawa di Kasunanan Surakarta), serta beberapa sumber lain seperti cerita para sesepuh desa, didapatkan sejarah asal muasal pantangan makan ikan lele bagi masyarakat Lamongan. Cerita ini berawal ketika Sunan Giri III yang bernama Sedamargo melakukan penyebaran agama Islam ke desa-desa menelusuri sepanjang aliran Bengawan Solo bersama dengan muridnya. ...
Oleh : Imroatul Imaniah Mahasiswi UNISLA II Paciran Ada banyak hal yang terjadi dan tersimpan dari tanah kelahiranku sekaligus tempat tinggalku. Saya dengar dan dapati ketika mendengar cerita orang tua terdahulu yang hidup sebelumnya dengan segala bentuk cerita dan misteri yang tersimpan selama ini. Hidup memang penuh misteri di mana tidak akan pernah tahu bagaimana kehidupan ke depan akan terjadi, misteri bukanlah masalah untuk dipecahkan tapi kenyataan untuk dialami. Pernah ada seseorang yang berkata padaku bahwa dahulu ada sebuah “Makam Ndowo” yang konon sering dipuja-puja oleh masyarakat setempat yang telah lalu, dengan membentuk lingkaran seperti Wer. Wer-wer disini berada di tengah-tengah yang jauh dari perkampungan masyarakat, karena pada saat itu masih belum tersedia banyak rumah seperti sekarang ini, saat ini tempat itu dijadikan PKU (Pembina Kesejahteraan Umat). Dan itulah mengapa disebut Desa Weru. Desa Weru termasuk daerah pesisir ya...
Komentar
Posting Komentar