LAMONGAN, KABAR.PACIRAN.COM —
Pantai Kutang. Wisata rintisan baru yang dikelola BumDesa Labuhan Kecamatan Brondong Lamongan memberikan banyak pelajaran soal bagaimana memanfaatkan Dana Desa dengan baik.
Disebut Pantai Kutang karena dulu pantai ini kumuh banyak sampah yang berserakan di pantai. Diantara sampah-sampah itu adalah sampah kutang (BH) yang sudah ndak terpakai dibuang begitu saja di pantai.
Perlahan pemuda desa dan pemerintah mencoba untuk membersihkan pantai sekaligus memperindah dengan menambahi dengan track dengan cat warna-warni.
Setelah perlahan bersih pantai ini banyak pengunjung. Tiap hari libur selalu penuh pengunjung dan menurut pengurus BumDesa tiap tahun sudah menghasilkan 750 juta rupiah.
Sebelum pantai kutang ini dibenahi, jauh sebelumnya ada sekelompok orang yang melakukan ritual di salah satu pohon. Mereka percaya bahwa pohon yang dibalut kain putih tersebut adalah endapan abu pembakaran Ronggolawe, abunya ditebar di pantai tuban tapi mengendap di pantai kutang. Boleh percaya boleh tidak.
Tapi yang terpenting adalah potensi desa itu tak melulu yang plus-plus saja tapi hal minus bisa diubah menjadi positif. Contohnya ya soal sampah di pantai kutang yang kini perlahan menghilang menjadi pantai wisata yang indah. Tapi yang menjadi kegelisahan warga desa adalah kiran sampah dari pulau sebrang saat air laut pasang. Sampah datang dari jauh....
Mulai 1 Juli 2024 Nomor Induk Kependudukan (NIK) akan dapat digunakan sebagai Nomor Pokok Wajib pajak (NPWP). Hari ini, Minggu (30/6), merupakan tenggat waktu mengintegrasikan NIK menjadi NPWP. Kebijakan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 112 Tahun 2022 tentang Wajib Pajak Orang Pribadi, Wajib Pajak Badan, dan Wajib Pajak Instansi Pemerintah. Dengan demikian, format NPWP yang saat ini terdiri dari 15 digit hanya akan berlaku sampai hari ini. Kemudian, mulai 1 Juli 2024 akan menggunakan format baru yakni 16 digit. Pemadanan NIK dengan NPWP hanya berlaku bagi masyarakat yang telah memiliki NPWP. Wajib pajak yang baru akan mendaftar, nantinya bakal langsung terdaftar di NIK. Masyarakat harus memadankan NIK dan NPWP-nya pada hari ini agar tidak mengalami gangguan kendala dalam aktivitasnya. Pasalnya, mereka yang NIK nya belum terdaftar sebagai NPWP tidak bisa melakukan transaksi yang berhubungan dengan perpajakan. Berikut daftar layanan yang tak bisa dilakukan ji...
Oleh: Lailatus Syarifah Mahasiswa UNISLA II Paciran Sering nggak sih dengar kalau orang Lamongan pantang makan lele? Padahal banyak lho perantau Lamongan yang berjualan pecel lele, namun konon mereka pantang memakannya. Lalu bagaimana sejarah yang terdapat di balik kepercayaan itu? Pasti ada asal muasal lahirnya pantangan bagi masyarakat asli Lamongan untuk memakan ikan lele. Apakah semua warga Lamongan asli pantang memakannya ataukah hanya sebagian kecil masyarakat saja? Jika iya, di mana tepatnya desa yang dimaksud? Mari simak sejarah di balik pantangan makan ikan lele. Menurut Ranggawarsita (pujangga Jawa di Kasunanan Surakarta), serta beberapa sumber lain seperti cerita para sesepuh desa, didapatkan sejarah asal muasal pantangan makan ikan lele bagi masyarakat Lamongan. Cerita ini berawal ketika Sunan Giri III yang bernama Sedamargo melakukan penyebaran agama Islam ke desa-desa menelusuri sepanjang aliran Bengawan Solo bersama dengan muridnya. ...
Oleh : Imroatul Imaniah Mahasiswi UNISLA II Paciran Ada banyak hal yang terjadi dan tersimpan dari tanah kelahiranku sekaligus tempat tinggalku. Saya dengar dan dapati ketika mendengar cerita orang tua terdahulu yang hidup sebelumnya dengan segala bentuk cerita dan misteri yang tersimpan selama ini. Hidup memang penuh misteri di mana tidak akan pernah tahu bagaimana kehidupan ke depan akan terjadi, misteri bukanlah masalah untuk dipecahkan tapi kenyataan untuk dialami. Pernah ada seseorang yang berkata padaku bahwa dahulu ada sebuah “Makam Ndowo” yang konon sering dipuja-puja oleh masyarakat setempat yang telah lalu, dengan membentuk lingkaran seperti Wer. Wer-wer disini berada di tengah-tengah yang jauh dari perkampungan masyarakat, karena pada saat itu masih belum tersedia banyak rumah seperti sekarang ini, saat ini tempat itu dijadikan PKU (Pembina Kesejahteraan Umat). Dan itulah mengapa disebut Desa Weru. Desa Weru termasuk daerah pesisir ya...
Komentar
Posting Komentar